Redup

Langkah kaki ku terhenti

Di batas redup sinar

Sinar yg senatiasa slalu menuntunku

Entah mengapa kini redup

Atau memang sudah waktunya padam

Jika begitu…

Aku mau sinar baru

Tapi, ke arah mana harus kulanjutkan langkah ini

Semuanya memang terlanjur redup

Aku ingin melangkah beribu ribu langkah

lagi, sampai tak ku temukan jalan lagi untuk melangkah
Sampai tak ada redup lagi

Semuanya bersinar

Cerah

Damai

Bahagia….

Iklan

Langit muram

dulu langitku cerah, merah merona semerah wajahku karena tawa. Ku kira semakin aku berjalan menjelajah langitku akan sama atau paling tidak bertambah menjadi senja yang indah. katanya langit hanya satu, yang kita tatap sekarang sama dengan dulu maupun nanti tapi mengapa langit yang dulu merah kulihat berubah, kini gelap gulita bertebar abu masam. Ku kira aku mengerti tapi nyata aku lupa adanya cuaca hingga aku tak sadar aku melangkah terlalu jauh meninggalkan langitku, pikiranku berputar mengingat apa yang telah lalui, langitku ku tinggalkan, terpaku pada perasaan langit yang sama. Pandanganku dicuri oleh langit yang nyatanya membasahiku dengan air mata, menyayat rasa dengan kerasnya kilat, membisingkan telinga dengan sambaran petir yang mencaci. Langitku tak lagi melindungku, membiarkanku terserbu hujan berkepanjangan, sekali reda diberikan panas sampai kering kerontang. Rasanya hambar, tatapanku mulai tak rela haknya dicuri, menatap tapi gelap padahal tidak terpejam. Gelapnya menerawang rinduku pada langitku.

Bandung, 3 mei 2017

– naira harahap

Jika kelak

Ternyata hatiku memang lemah

Lagi lagi soal rasa ku tak bisa mengelak

Lantas bagaimana dgn kenangan yg pahit 

Yg masih silih berganti datang sebagai kenangan yg blm bisa terlupakan

Nasibku kelak, bagaimana ?

Bagaimana jika kelak ia yg skrg sedang bersama ku menghujani hatiku dgn seribu pesakitan lagi ?

Masih berfungsikan hati dgn hal yg menyesakkan ?

Atau masih kuatkah aku menebar senyum di tengah gundah ?

Aaahhh pikiranku ini seakan tiada henti mencari

Jauh

senyum itu, terlintas dipikiran rasa menerka, mengingat lambaian tangan 

terdengar nyaring suara nan semu 

mata terpejam, nafas tersegal 
dulu pernah ada cerita 

pernah ada candatawa 

belaian lembut tangan halus

lantas hilang ditelan alasan 
sulit menjelaskan yang tak ada 

terbata berkata kenyataan 

sudahlah buang semua klise itu 

saya tau, kau jauh
kita tak pernah sedekat kekasih 

tapi sekarang kita jauh seperti musuh 

terima apa yang sakit, saya diam

lamunan membawa bayangan yang tak kunjung hilang

Naira – bandung, april 2017

Haru

Bagaimana bisa kau abaikan aku

Setelah ribuan taufan datang

Entah berapa kebisuan bisa aku terka lagi..

Bilamana makna rasa ini kurang,

Sudikah kau melihat senyum yg tertatih menyembunyikan luka..

Kembalilaahh ~ 

Sekali ini saja, aku mohon.. lagi

Sahabat

Mereka yang ada saat suka ataupun duka ‘kata kata yg selalu terlintas ketika ada org yg bertanya tentang definisi sahabat’

Bagiku tidak sekedar itu, sahabat adalah seseorang yang banyak mengajarkan banyak hal, membenarkan beberapa hal yang salah tanpa sungkan, yang rela di hina di caci maki demi membela sahabatnya, yg bisa menggunakan batinnya untuk meraba setiap rasa keluh kesah, yg tak sekedar mendengar namun memberi saran, yang bisa menjadi alarm ketika kita berbuat salah dan melampaui batas, yg membawa kita pada kebenaran, itu lah sahabat.